Persiapkan Dana Pensiun Sejak Dini !!!

Jangan mau hidup tua dengan sengsara. Lebih baik segera atur keuangan
anda untuk persiapan masa yang akan datang ketika usia masih muda. Mau
tahu caranya?? Simak artikel berikut ini…

Ketika menatap masa tua, seseorang tentunya ingin hidup dalam level yang nyaman dan tenang. Untuk itu Anda perlu mempersiapkan dana semenjak usia muda.

Tak jarang orang menyesal di masa tua, karena pada masa mudanya hanya
memaksimalkan membelanjakan uang, daripada menabungnya. Padahal saat itu
kita sedang berada pada masa produktif.

Sebagian orang bermimpi saat pensiun masih bisa bekerja lagi atau
mendirikan bisnis sendiri. Padahal untuk dapat dipekerjakan kembali oleh
sebuah perusahaan tidaklah mudah, apalagi bila keahlian seseorang tidak
memadai, serta tingginya tingkat persaingan dunia kerja. Demikian juga,
apabila seseorang akan memulai bisnis pada usia lanjut, tentu akan
sangat berisiko, dibandingkan bisnis yang dilakukan saat masih muda.

Selain itu, alasan lain yang harus menjadi pertimbangan untuk segera
mempersiapkan pensiun karena:

* Ketidakpastian biaya hidup masa depan.
* Ketidakpastian kondisi fisik di masa mendatang.
* Ketidakpastian penghasilan di masa depan

Walaupun jika Anda mendapatkan dana santunan pensiun dari perusahaan,
namun biasanya dana tersebut tidaklah cukup. Dengan begitu kita harus
cerdas memperhitungkan masa tua agar tidak menyesal, misalnya dengan:

* *Membuka usaha sampingan*

Membuka usaha sampingan, intinya adalah agar hasil dari usaha
sampingan ini bisa digunakan sebagai tambahan dana untuk membiayai
kehidupan pensiun. Membuka usaha sampingan bisa sangat
menguntungkan, namun perlu diingat, keberhasilan tersebut bisa
didapat hanya dengan pengelolaan yang baik dan konsentrasi penuh.
Selain itu juga perlu mempertimbangkan bahwa usaha sampingan juga
tidak lepas dari risiko, terutama risiko finansial. Tidak tertutup
kemungkinan, usaha sampingan juga bisa merugi. Jadi persiapkan
segala hal dengan matang. Mumpung masih muda.

* *Persiapkan aset standar mendasar*

Selagi muda tidak ada salahnya kita persiapkan hal-hal dasar yang
akan berguna sampai kakek nenek nanti. Rumah, sepeda motor, mobil,
perabotan dan lain-lain merupakan contoh aset dasar. Utamakan
rumah yang lokasi bagus untuk membesarkan anak dan merupakan
investasi yang bagus di masa depan. Bayangkan jika kita pensiun
tetapi rumah masih ngontrak, bagaimana itu rasanya? Jika ada uang
lebih segera ambil kredit rumah landed, bukan rumah susun ataupun
apartemen.

* *Menabung secara rutin*

Anda bisa menyisihkan sebagian uang dari penghasilan rutin untuk
dimasukkan ke dalam tabungan. Nantinya, tabungan tersebut akan
berkembang terus hingga mencapai jumlah yang cukup besar.
Keuntungan dari menabung ini adalah Anda tidak perlu mengorbankan
waktu dan pikiran, sehingga bisa tetap berkonsentrasi ke pekerjaan
utama Anda

* *Persiapan sosial kemasyarakatan*

Manusia adalah makhluk sosial yang butuh komunikasi dan uluran
tangan orang lain untuk dapat bertahan hidup secara wajar.
Banyak-banyaklah membantu orang-orang di sekitar kita tanpa pamrih
tanpa diminta karena suatu saat mungkin mereka akan memberikan
bantuan yang lebih dari yang kita minta nantinya ketika kita
memasuki masa-masa yang sulit.

Jangan lupa bahwa kita punya Tuhan yang menciptakan kita.
Perbanyak amal ibadah mulai sekarang sebagai bekal alias investasi
setelah kita meninggalkan dunia ini.

* *Mengikuti program pensiun*

Program Pensiun. Mengikuti program pensiun yang ditawarkan oleh
asuransi unit link atau bank, seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga
Keuangan) dan sejenisnya. Anda harus hati-hati memilih perusahaan
penyelenggara program pensiun, karena ada pula yang tidak
transparan, korupsi, atau salah kelola sehingga menyebabkan tidak
terbayarnya dana Anda saat pensiun tiba. Keuntungan dari program
ini adalah kita ?dipaksa? mengangsur setiap bulan/tahun, sehingga
menjadi disiplin. Bandingkan bila menabung sendiri, mungkin kita
tidak tahan ?godaan? untuk keperluan lain.

* *Persiapan penghasilan di masa pensiun/masa sulit*

Semua orang butuh uang untuk bertahan hidup dalam masyarakat.
Tidak terkecuali orang tua sebaiknya tetap memiliki penghasilan
agar tidak selalu bergantung pada anak, istri/suami atau orang
lain di sekitar kita.?

Selagi muda rintislah bisnis yang dapat menyelamatkan kita di masa
depan. Memiliki berbagai unit usaha yang berbeda-beda tanpa harus
melibatkan kita dalam pengelolaannya sudah cukup membuat hati
tenang. Bisa juga dengan memiliki banyak rumah, tanah, toko, kios
dan lain sebagainya yang bisa disewakan. Jangan lupa mendidik
generasi penerus yang dapat menjalankan bisnis tersebut tanpa
kita, yang dapat kita percaya seperti anak kandung, keponakan,
cucu, sahabat, dan lain sebagainya.

Kalaupun saat ini Anda berfikir bahwa ketika masa tua nanti tidak akan
macam-macam, karena kebutuhan juga sudah berkurang. Memang hal itu ada
benarnya, namun ada hal yang Anda lupakan. Yaitu kesehatan Anda. Karena
usia Anda saat itu sudah beranjak tua, biaya kesehatan biasanya akan
meningkat pesat. Biaya untuk hobi dan hiburan juga meningkat, seiring
makin banyaknya waktu luang yang Anda miliki. Sedangkan pos belanja
pribadi, telepon, air, dan listrik biasanya cenderung tetap.

Dari perkiraan naik dan turunnya biaya setiap pos pengeluaran ini, Anda
bisa menghitung sendiri berapa kira-kira kebutuhan hidup Anda nanti
setelah pensiun. Jadi ada baiknya pikirkan masa tua Anda dari sekarang.

Semoga Bermanfaat.

Persiapkan Pendidikan Anak Sedini Mungkin

Persiapkan Pendidikan Anak Sedini Mungkin

20-01-2010, oleh MelindaCare

Mahalnya biaya pendidikan memang menuntut setiap keluarga untuk lebih teliti lagi dalam mengatur keuangan demi masa depan sang buah hati. Berbagai produk tabungan maupun asuransi pendidikan pun kini ramai bermunculan dengan menawarkan berbagai keuntungan serta kemudahan. Namun, seperti apakah sesungguhnya perbedaan antara tabungan pendidikan dengan asuransi pendidikan, serta jenis produk investasi seperti apakah yang tepat untuk dijadikan pilihan keluarga ?

Sesungguhnya berbagai produk investasi pendidikan yang ditawarkan saat ini, baik yang berupa asuransi pendidikan maupun tabungan pendidikan memiliki manfaat yang sama, yaitu sebagai persiapan jangka panjang untuk masa depan sang buah hati. Namun alangkah baiknya pemilihan produk investasi pendidikan disesuaikan terlebih dahulu dengan pendapatan yang Anda terima serta besarnya jumlah biaya yang Anda keluarkan dalam satu bulan. Menurut Gail Cunningham, dari National Foundation for Credit Counseling sebaiknya dalam satu bulan harus dialokasikan sebagai dana cadangan atau simpanan sedikitnya 10 persen dari penghasilan yang diperoleh pengalokasian dana tersebut dapat berbentuk tabungan maupun asuransi.

Selain itu, sisi fleksibilitas dari produk investasi yang akan dipilih adalah salah satu faktor penting yang harus dicermati. Selama ini masyarakat hanya mengenal produk tabungan konvensional sebagai produk investasi yang sangat fleksibel, dana yang disimpan dapat dengan mudah ditarik sewaktu-waktu. Namun pada saat ini, beberapa produk tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan pun telah memiliki tingkat fleksibilitas serupa tabungan konvensional, tetap memiliki waktu jatuh tempo, namun dana yang diinvestasikan tetap dapat ditarik saat Anda benar-benar membutuhkan.

Akan tetapi meskipun produk tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan memiliki kemudahan dalam penarikan dana, seyogyanya jangan sedikitpun Anda memiliki pikiran untuk menarik dana yang Anda investasikan (kecuali dalam kondisi yang amat sangat terpaksa) untuk keperluan di luar biaya pendidikan anak Anda.

Perlu diketahui, tabungan pendidikan adalah berbeda dengan tabungan konvensional (biasa) serta memiliki kesamaan dengan asuransi pendidikan. Perbedaan antara asuransi pendidikan dengan tabungan pendidikan adalah institusi (lembaga) yang mengeluarkannya. Tabungan pendidikan dikeluarkan oleh institusi perbankan, sedangkan asuransi pendidikan dikeluarkan oleh institusi asuransi. Selain itu, asuransi pendidikan adalah investasi pendidikan yang dilindungi dengan asuransi. Dan untuk memiliki tabungan pendidikan, seseorang haruslah memiliki rekening tabungan (konvensional) terlebih dahulu pada bank yang bersangkutan.

Dan kedua produk investasi tersebut memiliki keunggulan yaitu memiliki bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis tabungan konvensional dan hampir setara dengan bunga deposito. Kesamaan lain antara asuransi pendidikan dengan tabungan pendidikan adalah dana yang terdapat didalamnya telah “terkunci” oleh lembaga yang bersangkutan hingga jangka waktu tertentu yang telah disepakati (jatuh tempo), kecuali seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam keadaan terpaksa dan disetujui tentunya oleh lembaga yang mengeluarkan produk investasi tersebut.

Namun apapun nama dan jenisnya, investasi pendidikan anak di masa datang memang harus sesegera mungkin Anda pikirkan demi sang buah hati tercinta.

Proteksi Kesehatan sampai USIA 75 TAHUN

info: Kini Manfaat Tambahan Asuransi Jiwa Prudential,
yakni Pru Hospital and Surgical, dimana manfaat ini memberikan proteksi terhadap biaya pengobatan nasabah selama dirumah sakit. dapat memberikan proteksi sampai USIA NASABAH 75 Tahun.
segera periksa kembali polis anda jika anda belum memiliki manfaat tambahan ini, segera lengkapilah proteksi diri Anda.
selamat ber-asuransi.

Gratis Konsultasi Asuransi / Review Polis Anda dan Keluarga / Info selengkapnya, segera hubungi saya.

Prudential kenalkan PRU multiple crisis cover

Rabu, 12/08/2009 15:50:04 WIB
Oleh: Hanna Prabandari

JAKARTA (bisnis.com):  PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) memperkenalkan PRU multiple crisis cover yakni produk asuransi tambahan yang memberikan sampai tiga kali klaim penyakit kritis.

Produk ini bisa diperoleh bersama produk dasar unit-linked dengan premi reguler, baik konvensional maupun syariah. PRU multiple crisis cover didesain berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Belum lama ini Prudential mengadakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan nasabah maupun masyarakat umum. Dari hasil FGD itu terungkap kekhawatiran dan kebutuhan mereka akan perlindungan yang lebih baik terhadap risiko terkena penyakit kritis pada usia produktif, serta terhadap kemungkinan menderita beberapa jenis penyakit kritis selama rentang masa hidup.

“Kenyataan bahwa penyakit kritis sangat mahal untuk disembuhkan, membebani fisik dan mental sang penderita, serta meningkatnya kemungkinan menderita penyakit kritis baru atau kambuhnya penyakit lama jelas menunjukkan kebutuhan akan produk asuransi tambahan ini,” tutur Presdir Prudential Indonesia Kevin Holmgren dalam jumpa pers di Jakarta.

Riset Organisasi Kesehaatan Dunia (WHO) menunjukkan lima penyakit kritis tertinggi yang dialami pria dan wanita berbeda. Lima penyakit kritis tertinggi untuk pria adalah kanker, serangan jantung, gagal ginjal, transplantasi organ utama, dan stoker/tumor otak jika.

Lima penyakit kritis tertinggi untuk wanita yakni kanker, SLE (lupus), stroke, tumor otak jinak, dan transplantasi organ utama. Studi di Singapura mengungkapkan kanker payudara merupakan penyakit paling mematikan untuk wanita.

Studi lainnya dari Journal of National Cancer Institute menyatakan bahwa wanita yang pernah menderita kanker payudara memiliki kemungkinan tinggi untuk terkena kembali. 7% Kemungkinan terkena kembali yang terkena kanker stadium 1, 11% kemungkinan untuk stadium 2, dan 13% kemungkinan untuk stadium 3. (tw)

Asuransi Apa Saja Yang Kita Perlu??

sumber : tidak diketahui

Manusia berencana, namun Tuhan juga yang menentukan. Ungkapan ini sepertinya sudah lazim kita dengar dan mungkin juga sudah ada sejak zaman dahulu kala. Jika kita cermati, ungkapan ini sebetulnya mengandung satu pesan tersembunyi: hidup ini penuh dengan risiko. Apa saja? Banyak sekali, Bapak-Ibu. Dari risiko paling kecil, seperti tepeleset di kamar mandi, sampai risiko kehilangan harta benda, anggota tubuh, bahkan nyawa.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sebaiknya pasrah saja, atau justru melakukan persiapan terbaik untuk berjaga-jaga seandainya risiko itu tiba. Sebagai perencana keuangan, tentu saja saya menyarankan pilihan terakhir. Bukan maksud saya mengajak Anda untuk berpikir pesimis, tapi sebaliknya justru mengajak Anda berpikir jauh ke depan. Ada banyak tujuan di depan sana yang masih ingin Anda capai. Karena itu, dalam mencapai tujuan-tujuan tadi, seyogianya Anda juga mempersiapkan diri menghadapi sejumlah risiko yang mungkin saja terjadi.

Salah satu antisipasi risiko yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengambil sejumlah asuransi. Berikut ini saya akan memberitahukan berbagai risiko yang mungkin terjadi pada Anda, dan asuransi untuk mengantisipasinya.

1. Kematian

Risiko kematian bisa terjadi kapan saja tanpa terduga. Bila yang meninggal adalah sebatang kara, tentu tak terlalu masalah. Repotnya kalau yang meninggal itu masih punya tanggungan anak-anak atau anggota keluarga lain. Bagaimana jadinya nasib mereka? Dari mana mereka bisa makan dan membayar uang sekolah?

Bila Anda saat ini mempunyai orang lain yang hidupnya Anda tanggung, tentunya pengambilan asuransi jiwa patut dipertimbangkan. Bila ada asuransi jiwa, maka orang yang Anda tinggalkan akan mendapatkan sejumlah uang pertanggungan yang bisa dia pakai untuk membiayai hidupnya. Jadi, ada pihak ketiga yang akan “menjaga” orang yang Anda tinggalkan.

Ada banyak perusahaan asuransi yang memberikan layanan ini. Semuanya berusaha memberikan layanan terbaik dengan berbagai bujukan lainnya. Anda tak perlu buru-buru menutup diri atau memilih. Gunakan waktu Anda untuk menyeleksi perusahaan mana yang memberikan tawaran dan pelayanan terbaik.

2. Kecelakaan

// Di mana pun Anda berada, risiko kecelakaan pasti akan tetap saja ada. Anda naik pesawat, kereta api, kapal laut, peluang sekecil apa pun selalu ada. Bahkan ada kejadian orang sedang berjalan di lapangan terbuka tiba-tiba kejatuhan pesawat terbang. Pernah pula ada bus nyelonong menabrak rumah dan mencelakai penghuninya yang sedang tidur.

Apa yang terjadi kalau Anda mengalami kecelakaan? Anda biasanya akan dibawa ke rumah sakit. Anda juga akan menginap kalau luka-luka Anda perlu perawatan cukup lama. Akibat terburuk, Anda cacat. Bisa jadi salah satu organ atau anggota tubuh Anda tidak berfungsi. Akibatnya, Anda tidak bisa lagi bekerja dan mendapatkan penghasilan.

Karenanya, Bapak-Ibu, untuk mengantisipasi risiko ini ambil saja asuransi kecelakaan. Asuransi kecelakaan memberikan uang pertanggungan bila Anda mengalami kecelakaan sehingga harus dirawat inap di RS, mengalami cacat, atau bahkan kematian. Sama seperti asuransi kematian, ada banyak perusahaan yang menawarkan asuransi kecelakaan. Umumnya mereka memberikan premi yang terjangkau.

3. Sakit

Sakit itu mahal. Kalau Anda sakit, paling tidak Anda harus pergi ke dokter sehingga ada biaya konsultasi yang harus Anda bayar. Belum lagi obat dan kalau dirawat inap di RS. Iya kalau uangnya ada. Kalau tidak? Beberapa RS saja sekarang meminta uang muka sebelum Anda masuk dirawat. Belum lagi kalau Anda harus dioperasi.

Untuk berjaga-jaga dari situasi ini, Anda bisa mengambil asuransi kesehatan. Dibanding beberapa tahun lalu, sekarang sudah makin banyak perusahaan asuransi menjual produk ini. Ada produk yang memberikan penggantian RS saja, atau penggantian RS plus penggantian rawat jalan, plus obat juga. Sekarang, tinggal Anda saja yang menentukan pilihan paling sesuai dengan kebutuhan Anda.

4. Musibah atas Rumah

Belakangan ini kita sering menyaksikan berita terjadinya kebakaran. Baik itu pasar, kantor, maupun pemukiman. Nah, kalau musibah itu menimpa rumah yang Anda tempati sekarang, bayangkan apa yang akan terjadi. Repotnya, tidak semua orang memiliki cukup uang untuk membangun kembali rumahnya yang terkena musibah, sehingga banyak yang akhirnya harus menumpang di rumah saudara, atau lebih apes lagi di tenda-tenda darurat. Untuk jenis musibah macam ini juga tersedia asuransinya. Biasanya dengan harga cukup terjangkau.

5. Musibah atas Kendaraan

Anda punya mobil atau sepeda motor? Kendaraan Anda juga memiliki kemungkinan mengalami kecelakaan. Sekarang ini saja kalau menyetir, hampir bisa dipastikan ada saja kendaraan lain memepet-mepetkan kendaraannya ke kendaraan saya. Dan itu terjadi hampir setiap hari, terutama di kota-kota besar. Bahkan sudah mengemudi dengan sangat hati-hati pun masih bisa jadi korban akibat ulah pengemudi lain yang tak kenal aturan.

Bila risiko terjadi kecelakaan memang cukup besar, tak ada salahnya mengambil asuransi kendaraan. Terlebih lagi bila kendaraan itu menunjang Anda dalam mencari nafkah. Bila Anda asuransikan, saat terjadi kerusakan maka perusahaan asuransi-lah yang akan menanggungnya.

Kesimpulannya, ada berbagai asuransi yang Anda prioritaskan. Selanjutnya Anda bisa menentukan, apakah perlu mengambil beberapa saja atau memang memerlukan semuanya. Andalah yang tahu persis kondisi diri Anda. Selamat berasuransi.

Siapkah Anda Untuk Pensiun?

Merancang pensiun?

Soal itu jangan  dibahas sekarang deh. Saya masih muda, baru 30 tahun. Saya masih kuat bekerja. Nanti kalau sudah menjelang 50 tahun, barulah bicara soal pensiun.” Kata-kata ini sering terdengar dikalangan anak muda berusia dibawah 35 tahun. Mereka seperti alergi membicarakan pensiun karena merasa masih punyabanyak waktu. Padahal, merencanakan pensiun sejak usia muda merupakan langkah tepat menuju hari tua yang sejahtera.

Dari hasil survey yang diadakan oleh majalah SWA terhadap 32 responden profesional independen di Jakarta, ternyata mayoritas (28,13%) belum merancang pensiun hingga kini. Dan sebagian responden (25%) merancang pensiun justru di usia yang sudah tua, yaitu 41- 45 tahun. Sebaliknya hanya 3,13% responden yang merencanakan pensiun sebelum umur 30 tahun. Kondisi serupa juga terjadi di kalangan pengusaha. Dari 34 responden pengusaha yang disurvei, mayoritas (38,24%) mengaku belum merancang pensiun hingga sekarang.

Memang, tak ada batasan baku pada usia berapa sebaiknya seseorang memikirkan pensiun.  Bila pensiun didefinisikan sebagai masa dimana seseorang tidak produktif dan tidak memfokuskan dirinya mencari uang maka sebaiknya seseorang mempersiapkan pensiunnya sejak masih produktif bekerja.

Analoginya begini: jika seseorang ingin pensiun pada usia 60 tahun, sementara sekarang baru berusia 25 tahun, ia masih punya waktu 35 tahun untuk menabung. Akan tetapi, bila sekarang umurnya sudah 40 tahun dan ingin pensiun 60 tahun, berarti persiapannya tinggal 20 tahun lagi. Sudah pasti, jumlah uang yang harus ditabung tiap bulan lebih besar ketika anda baru memulainya di usia 40 tahun ketimbang 25 tahun.

Agar lebih jelasnya Aidil Akbar Madjid seorang manajer investasi memberikan contoh konkret. “Bila waktu pensiun saya tinggal 10 tahun lagi, saya harus menyisihkan RP 3 juta/bulan. Tetapi bila masa pensiun saya masih 25 tahun lagi, dengan suku bunga yang sama saya mengalokasikan kurang dari Rp 1 juta/bulan.” Memang besaran uang yang ditabung didasarkan kepada jenis aktivitas apa yang ingin dilakukan serta berapa pasive income yang diperlukan pada saat pensiun nanti. Dimana tentunya hal ini juga berhubungan dengan instrumen investasi (Aset Produktif) yang perlu dipilih untuk menghasilkan pasive income yang anda inginkan.

Sudahkah anda mulai merancang pensiun anda? Bila belum mungkin inilah saatnya!

Semoga bermanfaat.

Kekuatan Impian

Tidak semua orang memahami apa yang menjadi impiannya. Kenapa Oprah Winfrey bisa menjadi seorang presenter yang amat berhasil ketika O Show meledak di dunia, atau kenapa Bill Gates menjadi seorang usahawan software nomor satu di dunia dari sebelumnya ia dinyatakan drop out dari kuliah. Mereka adalah orang – orang yang mengerti untuk apa mereka dilahirkan. Mengerti tujuan hidupnya, mereka berhasil menemukan dirinya sebelum orang lain bertanya – tanya bagaimana mereka bisa sampai ke ‘puncak’ tangga keberhasilan financial.

Sementara ini saya beralih sebentar kepada pemahaman bahwa apa maksud sebenarnya dari keberhasilan. Keberhasilan sering kali diidentikkan dengan mempunyai banyak uang secara instant, dalam rentang waktu dimana seseorang masih bisa disebut ‘muda.’ Jawaban dari semua itu adalah dunia. Dunia seringkali membuat manusia mencampur adukkan pemikiran mengenai kehidupan akhirat dengan dunia. Kehidupan agama menjadi penuntun kehidupan dunia, tetapi urusan dunia berbeda dengan urusan akhirat. Pada waktu kita berbicara mengenai keberhasilan dalam lingkup dunia, hal tersebut berbeda dengan keberhasilan dalam lingkup akhirat.

Akan saya coba jelaskan dengan lebih mudah seperti ini. Siapa yang menciptakan uang? Allah kah yang menciptakan uang? Siapa yang menciptakan mobil? Allah kah yang menciptakan mobil? Jawabnya anda tahu sendiri. Mereka yang beribadah adalah mereka yang berusaha mencapai ‘surga dunia’ dan ‘surga akhirat.’ Allah tidak pernah menjanjikan sesuatu di dunia dapat tercapai dengan berdiam diri dan berdoa kepada Allah melainkan mereka yang berdoa dan berusaha. Camkan satu hal bahwa Allah menciptakan dunia ini untuk dimanfaatkan sebaik – baiknya oleh manusia, pada dasarnya manusia sudah bisa mencukupi kebutuhannya dari alam dengan sendirinya, urusan dunia mulai ada sewaktu manusia ada dan berpikir.

Kembali pada topik utama, dimana pemahaman akan dunia tersebut menjelaskan siapa kita sebenarnya, yaitu makhluk dunia yang menciptakan dunia. Manusia yang yakin dengan dirinya sendiri, mencoba menemukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia dan dunianya, manusia tersebut sudah menemukan dirinya! Seperti ketika Thomas Alva Edison menemukan lampu pijar pada percobaan yang ke 1000 sekian kali. Keyakinan beliau menunjukkan bahwa tidak ada hal dunia yang tidak mungkin tidak ditaklukkan oleh manusia. Andaikata beliau tidak pernah meyakini hal tersebut, kita akan hidup dalam dunia kegelapan yang sebenarnya. Beliau sudah menemukan dirinya! Seperti dikatakan dalam Al Quran, manusia yang telah menemukan dirinya menemukan Allah.

Kekuatan positif akan adanya keyakinan (tujuan hidup) tersebut membuat seorang manusia mampu menggerakkan tujuan hidupnya ke arahnya, jadi alih – alih hanya mengejar impiannya, kekuatan positif / keyakinan akan tujuan hidup tersebut membuat tujuan hidupnya lebih cepat sampai karena tujuan hidupnya juga bergerak positif ke arahnya. Pernahkah anda berpikir pada suatu pagi bahwa hari tersebut adalah hari sial anda? Kemudian hal tersebut menjadi kenyataan bukan? Demikian juga dengan kekuatan positif, yakinkanlah diri anda pada suatu pagi, dengarkanlah musik positif, lihatlah impian anda kembali dan lakukan tindakan yang selaras mengarah ke tujuan hidup anda. Insya Allah tujuan hidup anda akan tercapai.

By : Anonymous

Persiapan Dana Pendidikan ( Penting Tidak Sih ? )

Bulan Juli yang baru saja berlalu merupakan bulan dimulainya tahun ajaran baru 2010. Selalu bisa ditebak bahwa setiap kali awal tahun ajaran baru, semua orang sepertinya bicara tentang pentingnya pendidikan. Dan kalau Anda perhatikan, hal ini biasanya menular kepada semangat bersekolah dari anak itu sendiri. Coba perhatikan betapa bersemangatnya anak-anak Anda ketika mereka masuk sekolah kemarin.

Wajar saja, kalau Anda sebagai orang tua menunjukkan semangat tentang pentingnya pendidikan, ditambah lagi lingkungan di sekitar Anda juga menunjukkan semangat yang sama, maka pastilah semangat tersebut juga akan tertular ke anak Anda sehingga wajar bila anak-anak sekolah sangat bersemangat masuk sekolah pada hari-hari pertama tahun ajaran baru kemarin.

Tetapi sayangnya, dari pengalaman saya selama ini, saya banyak menemukan orang tua yang ­ walaupun sadar bahwa pendidikan itu sangat penting ­ tetapi tidak begitu mempedulikan persiapan dana pendidikan itu sendiri. Sebagai contoh, banyak cerita tentang beberapa orang tua yang meminjam uang kesana-kemari pada saat datangnya tahun ajaran baru. Selain itu, Kantor Pegadaian juga penuh karena banyak orang yang menggadaikan barang-barangnya untuk membayar uang sekolah anak.

Kenapa sih orangtua kadang tidak siap dari segi dana ketika tiba waktunya si anak masuk sekolah? Jawabannya, mungkin karena orangtua tidak menganggap bahwa dana pendidikan itu penting untuk dipersiapkan sejak sekarang. Lho, apakah memang penting menyiapkan dana pendidikan untuk anak? Jawabannya saya tulis besar-besar di sini: PENTING.

Ada empat alasan kenapa dana pendidikan penting untuk dipersiapkan, bahkan kalau bisa sejak sekarang:

1. Mahalnya Biaya Pendidikan Pada Saat Ini

Biaya Pendidikan pada saat ini sudah cukup tinggi. Sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta ada yang meminta uang kuliah sebesar sekitar Rp 100 – 200 juta bagi mereka yang masuk kuliah tahun 2010 ini selama 5 tahun sampai lulus nanti. Bagi banyak orang, biaya pendidikan setinggi itu sudah tentu terasa mencekik leher.

2. Naiknya Biaya Pendidikan dari Tahun ke Tahun

Sudah biaya pendidikan di rasa mahal, jumlah tersebut biasanya akan terus naik dari tahun ke tahun. Dengan asumsi kenaikan sebesar 10 persen per tahun, maka dalam 17 tahun mendatang, bukan tidak mungkin Biaya Kuliah selama 5 tahun di S1 bisa mencapai sekitar Rp 500 juta.

3. Ekonomi Tidak Selalu Baik

Orang tua bisa saja menganggap bahwa penghasilannya sekarang aman-aman saja mengingat baiknya keadaan ekonomi sekarang ini. Sehingga mereka yakin bila si anak masuk sekolah nanti, dananya pasti tersedia. Tetapi, bila keadaan ekonomi menurun, bukan tidak mungkin penghasilan orang tua menjadi berkurang atau malah berhenti sehingga bisa saja dana pendidikan untuk si anak tidak akan siap bila dibutuhkan.

4. Fisik Manusia Tidak Selalu Sehat

Jangan anggap bahwa fisik manusia akan selalu sehat untuk bisa terus bekerja dan mendapatkan penghasilan. Bila Anda tidak menabung dan mempersiapkan dana pendidikan anak dari sekarang, maka bila suatu saat kelak fisik Anda tidak memungkinkan untuk Anda bisa terus bekerja, jangan harap dana pendidikan untuk anak Anda bisa tersedia.

Selain keempat alasan di atas, sebetulnya ada satu alasan lagi yang membuat kenapa dana pendidikan penting sekali untuk dipersiapkan sejak sekarang, yaitu: “Karena jadwal pendidikan anak Anda tidak mungkin dimundurkan atau ditunda.” Jadwalnya sudah pasti. Contohnya, kalau anak Anda sudah waktunya masuk SD tetapi Anda tidak punya dana yang cukup untuk membayar uang pangkal-nya, masak Anda mau memundurkan jadwal anak Anda masuk SD ke tahun berikutnya hanya supaya Anda bisa membayar biaya uang pangkal-nya secara penuh? Tidak, kan? Jadi, persiapkan dana pendidikan anak Anda sejak sekarang. Jangan tunda lagi.

Asuransi Kebutuhan atau keharusan ?

Kebutuhan atau keharusan ?
Butuh adalah sesuatu yang kita cari karena kita memerlukan.
Harus adalah sesuatu yang kita cari karena kewajiban.


Bagaimana dengan asuransi/Proteksi Jiwa dan Kesehatan?

Setiap orang memerlukan proteksi dan harus memilikinya; oleh karena itu butuh dan harus tidak dapat dipisahkan dalam kaitannya dengan asuransi.
Selagi orang itu masih sehat, orang tersebut butuh dan harus memiliki asuransi;
tetapi bila orang tsb sudah terkena suatu penyakit, maka ‘butuh dan harus’ tidak berlaku lagi.
Seringkali ‘butuh dan harus’ akan asuransi ini dilupakan banyak orang karena merasa tidak ada gunanya.

Sekarang keputusan berada di tangan anda,
apakah anda
butuh
atau apakah anda harus? memiliki asuransi. (jaw)

Menghitung Perkiraan Biaya Pendidikan

sumber: tidak diketahui.

Ketika beberapa hari lalu saya berbicara di sebuah seminar di Surabaya, saya kaget ketika seorang peserta seminar bercerita tentang mahalnya biaya masuk kuliah dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Jumlahnya tidak usah saya ceritakan berapa, tapi yang jelas sangat mahal. Padahal, itu baru uang masuknya doang.

Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa yang namanya Biaya Pendidikan harus dipersiapkan sejak sekarang. Betul, memang tidak semua Biaya Pendidikan itu mahal. Bervariasinya bentuk sekolah, terutama sekolah yang jenjangnya sudah cukup tinggi seperti Sekolah Tinggi, Akademi atau Universitas, membuat tidak semua standar biaya bisa sama. Jangankan pendidikan tinggi, jenjang sekolah yang lebih rendah seperti SD, SMP dan SMU saja bisa bervariasi biayanya satu sama lain. Itulah karenanya beberapa di antara Anda ada yang merasa mampu untuk membayar biaya pada Sekolah A, tetapi tidak mampu untuk membayar biaya pada Sekolah B yang harganya lebih mahal.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa bukan berarti Sekolah A yang biayanya dinilai murah tersebut akan tetap sama murahnya pada tahun-tahun mendatang. Ini karena yang namanya Biaya Pendidikan pasti akan naik terus dari tahun ke tahun. Jadi, kalaupun sekarang ada sekolah yang biaya pendidikannya dirasa tidak mahal, tetapi karena biaya tersebut naik terus tiap tahun, jatuh-jatuhnya pasti mahal.

Saya beri contoh sederhana saja: anggap saja sekarang anak Anda berusia 3 tahun. Pertanyaannya gampang, kalau sekarang Uang Pangkal SMU adalah Rp 4 juta, dan usia rata-rata seseorang masuk SMU adalah ketika pada usia 15 tahun, apakah nantinya Anda akan membayar jumlah yang sama ketika nantinya anak Anda masuk SMU sekitar 12 tahun lagi?

Pasti beda, karena nantinya Biaya Pendidikan tersebut pasti akan jauh lebih mahal.
CARA MENGHITUNG

Lalu, bagaimana cara Anda bisa menghitung dan memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak kalau biaya pendidikan selalu naik dari tahun ke tahun? Kan, Anda tidak tahu berapa persen jumlah kenaikannya setiap tahun?

Betul. Kita memang tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa jumlah Biaya Pendidikan anak kita kelak. Yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan asumsi tertentu, dan berharap supaya pengandaian tersebut tidak meleset. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan asumsi bahwa setiap tahun Biaya Pendidikan akan selalu naik sebesar 10 persen setiap tahun. Rata-rata.

Dengan demikian, kalau misalnya Uang Pangkal masuk SMU pada saat ini adalah Rp 4 juta, tahun depan bisa diperkirakan bahwa Uang Pangkal tersebut akan menjadi Rp 4.400.000,-. Darimana angka itu didapat? Gampang: Rp 4 juta + (10% x Rp 4 juta)

TINGGAL DIKALIKAN

Sebetulnya, selain cara di atas, Anda juga bisa memakai rumus: Rp 4 juta X 1,1.

Lho, kok 1,1? Dapat dari mana itu? Oh, itu sih cuma matematika sederhana. 1,1 kan sama dengan 10% di atasnya 100%. Jadi, 1,1 itu adalah bentuk desimal agar Anda lebih cepat dalam melakukan perkalian memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan.

Tapi kalau Anda mau pakai pengandaian kenaikan Biaya Pendidikan 20% per tahun, maka Anda bisa menggunakan bentuk desimal 1,2. Kalau asumsi kenaikan Biaya Pendidikannya adalah 30% per tahun, gunakan bentuk desimal 1,3. Begitu seterusnya.

Nah, kembali ke contoh kenaikan 10% dalam satu tahun, maka apabila tahun ini Uang Pangkal masuk SMU adalah Rp 4 juta, maka tahun depan angka tersebut diperkirakan menjadi: Rp 4 juta x 1,1 = Rp 4.400.000.

Itu untuk tahun depan. Kalau untuk dua tahun ke depan bagaimana? Anda bisa melakukan perkalian tersebut diatas dengan cara mengulangnya sampai dua kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1

Kalau untuk lima tahun ke depan bagaimana?

Ulang perkalian tersebut sampai lima kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1. Kalau untuk 12 tahun ke depan? Ulang sampai duabelas kali. Begitu seterusnya.

Memang, yang namanya perkiraan Biaya Pendidikan seringkali tidak bisa dihitung dengan cara yang sesederhana itu. Tapi melakukan perkiraan jelas masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan adanya angka perkiraan seperti yang sudah Anda pelajari di atas tadi, maka Anda bisa lebih mudah dalam melakukan persiapan. Ibarat Anda sedang bepergian, Anda tahu dengan pasti ke mana arah yang sedang Anda tuju.

Jadi, kalau Anda ingin mempersiapkan dana pendidikan untuk anak Anda, hal yang paling penting adalah dengan melakukan perhitungan tentang berapa perkiraan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengatur strategi agar siap bila tiba saatnya nanti.